36.000 Anak Ada Dalam Kondisi Rentan Di Libya

Publikasi: Rabu, 1 Rabiul Akhir 1439 H / 20 Desember 2017 07:33 WIB

(mtf-online.com) TRIPOLI  – Agen Berita Anadolu melaporkan bahwa, sekitar 36.000 migran anak di Libya membutuhkan bantuan, Misi Dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libya mengatakan pada Senin (18/12/2017).

Dari sekitar 400.000 migran, sembilan persen adalah anak-anak, dan mengejutkan, lebih dari 14.000 anak juga tidak ada dalam pendampingan intensif, katanya dalam sebuah pernyataan melalui situsnya.

Angka tersebut diungkap oleh UNICEF dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

“Tahun ini, hampir 15.000 anak yang tidak didampingi telah mencapai Italia melalui laut, melakukan perjalanan melintasi rute Mediterania Tengah yang berbahaya dari Libya. Perjalanan mereka biasanya difasilitasi oleh penyelundup dan pedagang,” lansir laporan tersebut.

“UNICEF memperkirakan bahwa lebih dari 400 anak yang mencoba melakukan perjalanan berbahaya sejak awal tahun ini telah meninggal dunia, sementara sejumlah besar lainnya menderita pelecehan, eksploitasi, perbudakan, dan penahanan,” tambahnya.

“UNICEF dan IOM telah bergabung dalam sebuah rencana aksi untuk meningkatkan dukungan terhadap anak-anak migran di Libya, dengan fokus pada perlindungan anak, pendidikan, penyediaan air bersih, sanitasi, dan kesehatan. Kolaborasi ini akan memastikan bahwa hak anak diletakkan di jantung semua lembaga bantuan di Libya.”

Othman Belbeisi, Kepala misi IOM Libya, yang dikutip dalam pernyataan tersebut mengatakan: “Tujuannya adalah bahwa selama kerja sama yang erat ini, kami akan bisa menjangkau dan melindungi lebih banyak anak. Anak-anak termasuk yang paling rentan, dan banyak yang membutuhkan perlindungan dan dukungan.”

Sejumlah besar migran Afrika berusaha mencapai Eropa karena konflik dan masalah keamanan di negara mereka menggunakan rute Libya.

Libya tetap dalam keadaan kacau sejak 2011, saat sebuah pemberontakan berdarah menyebabkan diturunkan dan tewasnya Presiden Muammar Gaddafi yang berkuasa lebih dari 40 tahun.

Selama enam tahun sejak perginya Gaddafi, perpecahan politik negara tersebut telah menghasilkan dua kursi saingan pemerintah – satu di Tobruk dan satu lagi di ibu kota Tripoli – dan sejumlah besar kelompok milisi bersenjata berat. (rahman/arrahmah)